Bingung juga nih, negara yang terus kita bangga-banggakan, yang kita seru-serukan untuk makin maju, untuk bangkit, untuk semakin berkembang, malah menjadi semakin terperosot dalam jurang kemiskinan karena jatuh ke jurang krisis di segala bidang.
Krisis apa? Nilai tukar uang semakin turun (Rp ke Dollar), harga sembako makin naik, krisis BBM, krisis Daya Listrik, krisis kepemimpinan, krisis figur dan krisis lain-lain. Dalam keadaan seperti ini, seandainya negara ini sebuah organisasi atau sejenis koperasi, bubar saja dah. Daripada semakin menghabiskan uang untuk ini dan itu, toh tetap bangkrut kalau diibaratkan sebagai perusahaan.
Tapi, ini lain masalahnya. Negara ini mempertaruhkan jiwa banyak orang. Bukan hanya golongan ata kelompok tertentu tetapi seluruh rakyat yang bernaung di bawah naungan Negara RI dari Sabang sampai Merauke. Siapa yang akan jadi pahlawan nih? Pusing. Kita bukan peramal. Tapi kehadiran dan kelahiran partai-partai baru yang mempunyai visi memperjuangkan nasib bangsa ini pun tidak menjamin. Bisa-bisa kita keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut singa lagi.
Trus bagaimana dong? Caranya: yah, pandai-pandai aja hidup di negara yang sedang hancur-hancuran ini. Mengapa tidak? Menjadi pemimpin saja, promosinya seperti promosi kecap. Contoh: “Pilih saya, Kemiskinan Hilang”. Partai politik juga sibuk memikirkan dan menyusun proposal. Yang sedang berkuasa sibuk mempertahankan posisinya. Yang belum berkuasa, sibuk menyusun strategi meraup sebanyak-banyaknya kekayaan, kedudukan dan lain-lain.
Akhirnya, nasib rakyat kecil tidak masuk dalam daftar prioritas yang harus dibenahi. Penambahan Daya Listrik seperti terjadi di Palangka Raya tidak terpikirkan. Tinggal mengandalkan pemadaman bergilir saja untuk memenuhi kebutuhan daya. Perumahan-perumahan baru tidak dapat memperoleh daya listrik. Krisis BBM kah atau terlambat datang ke SPBU kah, itu pun tidak dapat ditangani.
Trus, untuk apa dong menamakan diri sebagai pejabat yang berkuasa, yang pada promosi dulu: “Pilih saya, Semua kesulitan hilang”. Coba baca suara lain tentang ini yang mengatakan ketidaksanggupan semua oknum yang berwenang terhadap masalah ini. Atau yang ini.
akhirnya ada juga orang palangka raya lah