Menjawab pertanyaan ini susah. Karena pertanyaan ini menurut saya sangat subjektif. Jawaban sementara, ya boleh dikatakan “tergantung orangnya”.
Memang, dari pengamatan sehari-hari dan berdasarkan pendapat masyarakat Kalteng, khususnya orang tua yang mengamati perkembangan anaknya, 60% terbukti bahwa di Kalteng ini sangat kurang minat baca. Berdasarkan pengalaman pengelola perpustakaan di sekolah-sekolah, malah terbukti 80%. Ini dihitung berdasarkan jumlah siswa dan mahasiswa yang berkunjung ke perpustakaan setiap hari.
Kapan bisa maju kalau begitu? Saya hanya khawatir, jangan-jangan keadaan seperti ini membawa Kalteng ke SDM yang tetap rendah sepanjang masa. Mayoritas masyarakat Kalteng senang menghabisakan uang untuk duduk di warung dan rumah makan daripada menghabiskan uang untuk membeli buku dan duduk di perpustakaan. Pernyataan ini tentu mengatakan tidak semua karena masyarakat Kalteng terdiri dari masyarakat yang berasal dari berbagai suku dan daerah.
Saya hanya menghimbau saja, kalau boleh, lembaga-lembaga pendidikan formal harus mengambil alih peran untuk mengatasi hal ini dengan tidak memberikan kemudahan kepada siswa atau mahasiswa. Karena kalau tidak, kita di Kalteng ini akan tetap seperti tak berdaya di mata orang lain di luar Kalteng. Semoga saja prediksi saya ini salah dan Kalteng tetap maju…..